Logo Simkah SIMKAH
Berita

Cinta Saja Tidak Cukup: Kenapa Banyak Pernikahan Retak di 5 Tahun Pertama?

W
Widyawan
Cinta Saja Tidak Cukup: Kenapa Banyak Pernikahan Retak di 5 Tahun Pertama?
Bagikan:

Bayangkan dua orang yang saling mencinta, sudah sah menikah, tapi kemudian kandas bahkan sebelum genap lima tahun. Bukan karena tidak sayang — tapi karena tidak tahu caranya.

Inilah realita yang diungkap pakar kajian gender dan keluarga, Alimatul Qibtiyah, dalam forum besar yang digelar Kementerian Agama. Katanya tegas: cinta saja tidak pernah cukup untuk menopang sebuah pernikahan.


Masalah Kecil yang Dibiarkan, Bom Waktu yang Meledak

Alimatul berbicara dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Forum ini mengumpulkan 100 peserta fasilitator dari berbagai daerah dan organisasi.

Nah, yang menarik dari penjelasannya: konflik di awal pernikahan hampir selalu bukan soal hal-hal besar. Bukan soal perselingkuhan atau utang menggunung. Justru yang jadi biang kerok adalah akumulasi masalah-masalah kecil yang terus diabaikan — komunikasi yang mampet, ekspektasi yang terlalu tinggi, dan pembagian peran rumah tangga yang tidak pernah benar-benar disepakati.

"Banyak pasangan masuk ke pernikahan hanya dengan bekal cinta, tetapi belum memiliki keterampilan mengelola hubungan. Padahal, relasi suami-istri itu perlu dipelajari," ujar Alimatul.

Singkatnya: menikah itu seperti belajar bahasa baru. Niat saja tidak akan membuat kita fasih. Perlu latihan, perlu ilmu.


Sebelum Ijab Kabul, Sudah Ngobrol Belum?

Yang bikin kaget, ternyata banyak pasangan yang belum pernah berdialog secara terbuka soal hal-hal mendasar sebelum menikah. Mau punya anak berapa? Bagaimana kalau ada masalah keuangan? Siapa yang pegang kendali dapur? Kalau bertengkar, bagaimana cara baiknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi justru jadi sumber gesekan bertahun-tahun kalau tidak pernah dibahas.

Alimatul juga menyentuh soal kesiapan kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga — topik yang kerap dianggap tabu, padahal sangat krusial.

"Perencanaan keluarga itu penting. Pasangan perlu mendiskusikan sejak awal: berapa jumlah anak yang diinginkan, kapan direncanakan, dan bagaimana jika ada kendala reproduksi," tegasnya.


Halal Saja Tidak Cukup — Harus Aman

Alimatul menegaskan satu hal yang sering luput dari perhatian: pernikahan yang sah secara hukum belum tentu sehat. Ia membagi relasi pasangan ke dalam empat kategori:

  • Halal dan aman — kondisi ideal yang seharusnya jadi standar
  • ⚠️ Halal tapi tidak aman — sah di atas kertas, tapi ada kekerasan atau tekanan
  • 🔶 Tidak halal tapi relatif aman
  • Tidak halal dan tidak aman — paling berat dampaknya

"Kalau sudah sampai pada kondisi tidak aman, dampaknya bisa sangat serius, terutama bagi perempuan. Karena itu, penting memastikan sejak awal bahwa relasi dibangun secara sehat," katanya.

Pernikahan yang ideal, menurut Alimatul, berdiri di atas tiga pilar: bebas dari kekerasan, dilandasi saling menghargai, dan dibangun dengan keadilan — baik dalam komunikasi, pengambilan keputusan, maupun kehidupan sehari-hari.


Suami Siaga: Bukan Sekadar Slogan

Satu poin yang tak kalah penting adalah keterlibatan suami dalam pengasuhan, khususnya di masa-masa awal kelahiran anak. Alimatul menyebut konsep "suami siaga" sebagai kunci keharmonisan — bukan suami yang hanya hadir secara fisik, tapi benar-benar terlibat dan siap mendampingi.

Dalam sesi Bimtek itu, peserta bahkan diajak berdiskusi langsung sebagai pasangan — mulai dari merancang kehidupan keluarga hingga menyepakati cara menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Bukan teori di papan tulis, tapi latihan nyata.


100 Fasilitator, Ribuan Keluarga yang Bisa Terselamatkan

Bimtek yang berlangsung pada 20–23 April 2026 ini diikuti 100 peserta dari berbagai penjuru. Mereka berasal dari perwakilan Kemenag di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan DKI Jakarta, juga dari organisasi seperti BP4, Pokja Majelis Taklim, Fatayat NU, Nasyiatul Aisyiyah, dan Fahmi Ummi.

Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kemenag, Zudi Rahmanto, menyebut penguatan kapasitas fasilitator sebagai langkah strategis agar pesan pembinaan keluarga bisa menjangkau lebih banyak pasangan muda di akar rumput.

"Dengan fasilitator yang terlatih, diharapkan pesan pembinaan keluarga dapat tersampaikan secara lebih efektif kepada calon pengantin dan pasangan muda di berbagai daerah," ujarnya.


Pernikahan Bukan Cuma Soal Hari Akad

Di penghujung paparannya, Alimatul meninggalkan pesan yang layak direnungkan siapa pun — yang sudah menikah, yang akan menikah, maupun yang sedang mempertimbangkannya:

"Pernikahan itu bukan hanya tentang hari akad, tetapi tentang bagaimana menjalani kehidupan setelahnya. Karena itu, kesiapan harus dibangun sejak sebelum menikah."

Peribahasa bilang, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitu juga masalah rumah tangga — yang kecil, kalau dibiarkan menumpuk, bisa meruntuhkan fondasi yang paling kokoh sekalipun.

Maka mulailah dengan percakapan yang jujur. Sebelum janji diucapkan di depan penghulu.


Sumber Berita: Bimas Islam Kemenag RI

Bagikan: